Pentingnya
Pendidikan Dalam Membangun Karakter Bangsa
Pendidikan
merupakan hal terpenting untuk membentuk kepribadian. Pendidikan itu tidak
selalu berasal dari pendidikan formal seperti sekolah atau perguruan tinggi.
Pendidikan informal dan non formal pun memiliki peran yang sama untuk membentuk
kepribadian, terutama anak atau peserta didik. Dalam UU Sisdiknas No. 20 tahun
2003 kita dapat melihat ketiga perbedaan model lembaga pendidikan tersebut.
Dikatakan bahwa Pendidikan formal
adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas
pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Sementara
pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang
dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Satuan pendidikan nonformal terdiri atas lembaga kursus,
lembaga pelatihan, kelompok belajar, pusat kegiatan belajar masyarakat, dan
majelis taklim, serta satuan pendidikan yang sejenis. Sedangkan pendidikan informal adalah jalur pendidikan
keluarga dan lingkungan. Kegiatan
pendidikan informal dilakukan oleh keluarga dan lingkungan dalam bentuk
kegiatan belajar secara mandiri.
Memperhatikan ketiga jenis pendidikan di atas, ada kecenderungan bahwa
pendidikan formal, pendidikan informal dan pendidikan non formal yang selama
ini berjalan terpisah satu dengan yang lainnya. Mereka tidak saling mendukung
untuk peningkatan pembentukan kepribadian peserta didik. Setiap lembaga
pendidikan tersebut berjalan masing-masing sehingga yang terjadi sekarang adalah
pembentukan pribadi peserta didik menjadi parsial, misalnya anak bersikap baik
di rumah, namun ketika keluar rumah atau berada di sekolah ia melakukan
perkelahian antarpelajar, memiliki ’ketertarikan’ bergaul dengan WTS atau
melakukan perampokan. Sikap-sikap seperti ini merupakan bagian dari
penyimpangan moralitas dan prilaku sosial pelajar.
Oleh karena itu, ke depan dalam
rangka membangun dan melakukan penguatan peserta didik perlu menyinergiskan
ketiga komponen lembaga pendidikan. Upaya yang dapat dilakukan salah satunya
adalah pendidik dan orangtua berkumpul bersama mencoba
memahami
gejala-gejala anak pada fase negatif, yang meliputi keinginan untuk menyendiri,
kurang kemauan untuk bekerja, mengalami kejenuhan, ada rasa kegelisahan, ada
pertentangan sosial, ada kepekaan emosional, kurang percaya diri, mulai timbul
minat pada lawan jenis, adanya perasaan malu yang berlebihan, dan kesukaan
berkhayal. Dengan mempelajari gejala-gejala negatif yang dimiliki anak remaja
pada umumnya, orangtua dan pendidik akan dapat menyadari dan melakukan upaya
perbaikan perlakuan sikap terhadap anak dalam proses pendidikan formal, non
formal dan informal.
Nama : Reynaldo Evan Mesa Lado
No. Regis : 13115041